Progress

No Pain No Gain

Penulis : Redaksi | Mon, 14 May 2018 - 12:39 | Dilihat : 150
Tags : Kristen Makedonia Pendidikan Perjuangan Progress

-Suara Makedonia- Mengutip dari artikel yang ditulis oleh Victor Yasadhan—Direktur  Pendidikan Yayasan Sukma, Ibu Sri Mulyani menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia tertinggal 73 tahun dalam bidang membaca jika dibandingkan dengan kebanyakan negara-negara maju yang tergabung dalam OECD (The Organisation for Economic Co-operationand Development). Sementara itu, dalam kemampuan matematika, diperkirakan perlu waktu setara 48 tahun untuk dapat sampai pada level pencapaian negara-negara tersebut.

 

Sebuah pernyataan yang sangat menyedihkan bagi seorang tenaga pendidik di Sekolah Kristen Makedonia (SKM) bernama Emilia Rosa. Suatu hari, Emilia bertanya kepada siswa kelas IX yang akan ujian, mata pelajaran apa yang paling sulit, mereka menjawab IPA. Sedangkan Emilia adalah guru mata pelajaran IPA. Dia membuat daftar keluhan siswa tentang pelajaran IPA. Didapati jawaban dari peserta didik, di antaranya “Sulit, terlalu banyak yang perlu dipelajari, fisikanya rumit, biologinya banyak hafalan, banyak istilah, susah menghitung, capek, tidak paham, sering lupa,” dan masih banyak lagi. Alasan dibalik keluhan-keluhan sendiri itu lebih beragam lagi. Bahkan tak jarang ada juga yang tiba-tiba sakit saat akan ulangan, atau ketika tugasnya tidak selesai. Dan yang selalu mereka katakan saat akan ulangan, “Ibu, soalnya susahkah?” atau “Ibu soalnya jangan susah-susahlah”. Sebuah ekspresi ketidakpercayaan diri.

 

SKM punya fasilitas yang mumpuni untuk menunjang proses pembelajaran siswa. Perpustakaan dengan ratusan buku, guru yang selalu terbuka untuk diajak berdiskusi, jaringan internetpun disediakan. Sekalipun demikian, siswa harus memiliki kesadaran bahwa keberhasilan merupakan bayaran dari banyaknya pengorbanan. Pengorbanan dalam menempuh pendidikan selalu meliputi waktu, tenaga, dan pikiran. Sikap mental yang baik jika siswa sadar untuk tekun belajar tidak peduli begitu banyak waktu, tenaga dan pikiran yang diperlukan. Melatih diri untuk memiliki target dan mengerjakannya. Punya impian yang tinggi akan masa depan, sehingga tidak mudah putus asa, tidak mudah kehabisan energi untuk belajar, tidak cepat melupakan ilmu yang didapat, tidak mudah mengatakan “itu terlalu rumit”. Hal ini yang akan selalu dikatakan Emilia kepada siswa-siswinya, tidak peduli mereka akan ingat atau tidak.

 

Emilia mengakui kelebihannya sebagai guru adalah selalu optimis akan masa depan. Terutama masa depan anak-anak yang dia didik, sesulit apapun yang dia rasakan ketika mengajar peserta didik. Terlebih lagi membuat mereka mengerti setiap aturan yang mengikat mereka saat menempuh pendidikan, bahwa itu adalah bagian dari pengorbanannya. Dirasakan seperti menyiksa di saat sekarang tetapi dirinya yakin hal ini akan sangat berguna di masa depan. Emilia juga sering berbagi tips dengan siswa-siswinya, tentang beberapa hal yang penting dilakukan saat belajar, di antaranya: mereka harus memiliki kemauan, mengenali cara belajar yang paling cepat membuatmu mengerti, tidak malu bertanya, ulangi lagi pelajaranmu sampai menguasainya. Jika saja mau berkorban dan mau melatih diri, Emilia yakin tidak aka nada keluhan yang sudah disebutkan tadi. Tidak ada lagi ketertinggalan yang menyedihkan, walaupun harus mengejarnya dengan berpeluh. Kerberhasilan adalah harga yang pantas untuk semua pengorbanan.

 

Emilia Rosa   

Guru Sekolah Kristen Makedonia                   

Lihat juga

Komentar


Group

Top