Buletin

Kriteria Pewarta Kebenaran

Penulis : Redaksi | Sat, 11 August 2018 - 09:53 | Dilihat : 101
Tags : Kebenaran Kristen Makedonia Pendidikan Slamet Wiyono

-Suara Makedonia- “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” -- 2 Tim 2:2

Apa itu Injil? Pertanyaan model begini sepertinya naif jika ditanyakan lagi kepada orang yang mengaku diri Kristen. Sudah barang tentu tahu apa itu yang dimaksud. “Injil itu kan empat kitab dalam perjanjian baru;” “Injil itu kan artinya Kabar Baik”. Ya, betul, “Injil” memang selalu diidentikkan dengan empat kitab dalam Perjanjian Baru. Bukan itu saja, dari etimologi katanya, arti Injil dari Bahasa aslinya euangelion (yun) adalah benar “Kabar Baik”. Tapi tentu saja kabar baik yang dimaksud bukan sekadar kabar yang menyenangkan di telinga, seperti kalau kita mendengar kabar dapat undian berhadiah, atau kabar kita lulus kuliah dengan nilai memuaskan. Hal penting dari Injil adalah juga konten atau isinya. Paulus dalam suratnya kepada Timotius pun menegaskan, Injil yang diberitakannya adalah tentang Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, (2 Tim 2:8). Itulah kabar baiknya, tentang Kristus dan karyaNya, bukan yang lain.

Selain konten yang harus benar, dalam suratnya, Paulus juga menegaskan tentang pentingnya Kapasitas pemberitanya. Kepada siapa Injil itu bisa dipercayakan (2 Tim 2:2). Setidaknya ada 2 (dua) instrumen yang disinggung oleh Paulus.

  1. DAPAT DIPERCAYAI: pistos (yun) kata ini secara umum diartikan dengan: setia, percaya; orang percaya; mempercayai secara teguh; dipercayakan.

Dari sini kita melihat bukan sekadar bicara soal orang PILIHAN yang bisa dipercayai atau yang bisa menjaga kepercayaan. Tapi juga menjelaskan tentang orang itu harus sungguh-sungguh percaya kepada INJIL atau Kabar Baik itu sendiri. Saya rasa, apa yang dikatakan Paulus ini bukan tanpa alasan. Sebab, bagaimana mungkin orang bisa sungguh-sungguh mewartakan KABAR BAIK itu kalau si pemberitanya sendiri tidak percaya (beriman).

  1. CAKAP MENGAJAR: kata CAKAP dalam Bahasa aslinya menggunakan istilah hikanos (yun) yang secara umum mengandung arti: cukup, cocok, banyak, besar, mampu; kompeten. Saya memahami kata ini bukan sekadar menyoal tentang kemampuan seseorang dalam berbicara atau berkata-kata (soft skill). Tapi juga berkaitan dengan PERCAYA yang dituntut sebelumnya. 1. Pengetahuan atau pemahaman tentang apa yang dipercayai itu sudah cukup; 2. Bicara, apakah orang itu sudah benar-benar menghidupi apa yang dipercayai. Jangan sampai gara-gara hidupnya yang tidak sepadan dengan kabar baik, justeru menjadi antiklimaks, kabar baik yang disampaikan malah jadi batu sandungan.

Ada perbedaan yang jelas antara instrument pertama dan kedua. Instrumen pertama bicara tentang dasar yang jelas dan tegas. Sementara instrumen kedua bicara tentang proses setelahnya, perkembangan dan pertumbuhan iman percaya.

Karena itu, menjadi seorang Pekabar Injil tidaklah mudah. Ada kriteria yang jelas dan tegas. Lebih tidak mudah lagi penerapan kriteria Pekabar Injil ini dalam sebuah proses Admisi di Sekolah Tinggi Teologi. Sebab, tidak sedikit mereka yang datang melamar hanya bermodalkan PERCAYA dan keinginan (panggilan) kuat menjadi Hamba Tuhan saja, sementara pengetahuan dasar teologis mereka tentang yang dipercayai cukup saja.

Ketiadaan pengetahuan teologi yang cukup tidak selalu menunjukkan bahwa orang itu tidak memiliki keinginan kuat untuk menjadi Hamba Tuhan. Karena pengetahuan sendiri, yang merupakan bagian dari kecakapan bisa didapatkan selama proses mengajar. Tapi lagi-lagi butuh usaha yang tidak sedikit, butuh energi yang besar untuk melakukannya. Sehingga ketika kelak lulus nanti, Hamba Tuhan tersebut betul-betul memiliki kriteria sebagai Hamba Tuhan atau pemberita Injil, seperti yang Paulus Maksudkan. Masih jauh lebih bagus orang yang memiliki kerinduan kuat untuk belajar, dalam kekurangan yang dimiliki, dari pada orang yang merasa memiliki pengetahuan (teologis) banyak, tapi mengajarkan Injil yang keliru kepada Umat.

Pdt. Slamet Wiyono

Gereja Refomasi Indonesia

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top