Buletin

Musik Sebagai Jembatan Pembinaan Kepada Kaum Muda

Penulis : Redaksi | Fri, 7 September 2018 - 10:03 | Dilihat : 178
Tags : Kristen Makedonia Musik Pendidikan

-Suara Makedonia- Musik memiliki tempat yang spesial di tengah kehidupan anak-anak muda. Tak percaya? Cobalah hitung jumlah lagu yang ada di dalam perbendaharaan yang anak-anak atau siswa/i kita miliki. Musisi-musisi kenamaan tanah air dan dunia internasional semisal Afgan, Tulus, Raisa, Ed Sheeran, Camila Cabello, Bruno Mars, dll pasti dapat kita temui di playlist aplikasi musik yang ada di media mereka. Kedekatan anak-anak muda terhadap musik tidak hanya terjadi di era milenial sekarang ini, tetapi sudah sejak zaman dahulu. Pemimpin tertinggi di republik ini saja, Bapak Presiden Joko Widodo sangat menyukai musik sejak usia mudanya (sampai saat ini), khususnya musik beraliran Rock seperti grup musik Metallica. Sebagai seorang guru seni budaya, pembimbing dan orang yang menyukai musik, saya melihat fakta tersebut sebagai sebuah peluang untuk dapat memberikan pembinaan Kristen bagi siswa/i atau kaum muda. Musik dapat menjadi jembatan bagi guru untuk menamamkan nilai-nilai Kristiani.

Dalam bidang keilmuan, musik dapat diartikan sebagai cetusan ekspresi isi hati yang diungkapkan dalam bentuk bunyi yang bernada dan berirama, khususnya dalam bentuk lagu dan nyanyian. Musik sangat berperan dalam kehidupan orang percaya. Kehidupan ibadah Kristen sebagian besar melibatkan musik di dalamnya. Kita dapat melihat betapa pentingnya musik bagi kehidupan orang percaya bila mencermati tulisan H. L. Cermat dalam bukunya yang berjudul Kidung dan kecapi: Musik dalam Alkitab yaitu :

“Alasan mengapa musik itu penting dalam zaman Alkitab dapat dilihat dari hukum pertama dan kedua dari Sepuluh Hukum Tuhan (Kel. 20:4-5), yang berbunyi "Bila bangsa-bangsa lain ingin membuat sesuatu yang indah, mereka sering menggambar, melukis, atau mengukir. Tetapi umat Tuhan dilarang untuk membuat ‘patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah’, dengan maksud supaya mereka tidak ‘beribadah kepadanya." Bila bangsa-bangsa lain ingin merasa bahwa ilah-ilah mereka sungguh dekat, merasa bahwa ilah-ilah mereka pasti sedang memelihara mereka, mereka dapat membuat patung berhala, lalu sujud menyembah kepadanya. Tentu saja para penyembah Tuhan Yang Maha Esa tidak boleh berbuat demikian. Walau bangsa Ibrani tidak dapat melihat Allah mereka, namun mereka percaya bahwa Ia cukup dekat untuk dapat mendengar suara mereka. Jadi setiap kali mereka menyanyikan dan memainkan lagu-lagu pujian, merekapun dapat merasakan hadirat Tuhan secara khusus (Contoh, 2 Taw. 20:20-30)”.

Jadi, dapatlah kita pahami bersama bahwa musik dalam kehidupan umat Kristiani merupakan ekspresi iman kepada Tuhan. Apa yang menjadi keyakinan, harapan, serta doa orang percaya dapat diungkapkan melalui musik. Oleh sebab itu, kita tidak boleh sembarangan dalam menyanyi ataupun bermusik. Sebagai guru di Sekolah Kristen Makedonia, kita tak henti-hentinya menegur siswa yang suka menyanyikan lagu-lagu yang mengandung lirik yang bertentangan dengan doktrin dan etika Kristen. Bayangkan saja, bila lirik lagu semisal “madu tiga” (yang berisikan hasrat seorang laki-laki untuk memiliki istri lebih dari satu) atau “shape of you” (yang berisikan hasrat seorang laki-laki yang menggilai lekuk tubuh seorang wanita pujaannya) menjadi ekspresi dari apa yang diinginkan oleh siswa atau anak kita? Hal ini tentu saja bertentangan dengan apa yang menjadi doktrin dasar dari setiap pengajaran yang dilakukan oleh guru-guru di Sekolah Kristen Makedonia. Seorang guru Kristen yang baik harus dapat memberikan pembinaan yang sesuai dengan doktrin dan etika Kristen, termasuk dalam hal bermusik.

Lamjunior Hasudungan Manalu, S.Pd.K.

Guru Seni Budaya, pembimbing musik, serta Wali Asrama Putra SMA Kristen Makedonia.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top