Buletin

Menantikan Perubahan

Penulis : Redaksi | Mon, 24 September 2018 - 09:27 | Dilihat : 68
Tags : Bulletin Kristen Makedonia Pendidikan

-Suara Makedonia- Setiap guru pasti mengharapkan perubahan terjadi pada murid-muridnya, mulai dari yang tidak tahu apa-apa menjadi bertambah pengetahuannya, yang awalnya tidak memiliki keterampilan dalam melakukan sesuatu setelah diajari bisa menjadi terampil, yang berkarakter buruk menjadi lebih baik setelah dinasihati dan dibimbing. Dalam prakteknya, perubahan itu tidaklah terjadi semudah membalikkan telapak tangan. Kita bisa menemukan anak yang sudah diajari matematika selama di SD kelas kecil, namun tidak menunjukkan perubahan yang signifikan saat dia di kelas besar. Anak diajarkan membaca dan menulis dari tingkat dasar tetapi di tingkat pendidikan menengah belum tentu bisa membuat kalimat yang baik dan benar. Anak-anak yang sedang dalam pembinaan disiplin dan karakter kerap mengulangi kesalahan yang sama. Upaya-upaya yang telah dilakukan guru, khususnya kepada murid-murid yang ‘bermasalah’, tampaknya tidak menghasilkan perubahan yang diinginkan dan akhirnya guru cenderung berhenti/menyerah.

Paulus adalah guru bagi banyak orang. Sebagai murid Tuhan Yesus ia mengajarkan bagaimana cara melakukan pemuridan dan mendampingi setiap murid dan jemaat untuk bertumbuh. Dalam sebagian besar surat-suratnya kepada jemaat dan murid-muridnya, Paulus selalu mengucap syukur atas iman dan pertumbuhan orang-orang yang dia layani. Tetapi, Paulus juga pernah marah kepada jemaat Galatia yang begitu cepat berbalik dari Injil Kristus (Galatia 1:6) dan mengatai mereka ‘bodoh’ karena terpesona oleh pengajaran diluar Kristus (Galatia 3:1).

Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari pengajaran, pemuridan dan pelayanan yang dikerjakan Paulus terhadap jemaat :

  1. Panggilan Sebagai Pemberita Injil

Pelayanan Paulus didasari oleh panggilan yang murni untuk memberitakan Injil. Paulus sangat jelas dengan panggilannya untuk memberitakan Injil kepada orang-orang non Yahudi. Panggilan ini membuat dia kuat menghadapi segala tantangan dan kesulitan dalam pelayanannya. Dia mengerti bahwa Allah yang telah memanggil dia akan menolong, memberi hikmat dan melimpahkan sukacita dalam segala keadaan.

  1. Pengajaran yang Benar

Dari kecil Paulus belajar tentang Taurat dan tradisi-tradisi orang Yahudi walaupun dia tinggal di kota Tarsus yang dipenuhi budaya Yunani. Setelah bertobat dia semakin mengejar pengenalan akan Kristus dan menganggapnya sebagai keuntungan, lebih mulia dari hal lain yang dulu dia anggap keuntungan. Paulus menyadari bahwa Injil yang dia beritakan bukan diajarkan oleh manusia tetapi diterimanya oleh penyataan Yesus Kristus (Galatia 1 : 11-12), sehingga apa yang dia berikan adalah pengajaran yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan dia tidak gentar memberitakannya.

  1. Kasih kepada Jemaat

Dalam suratnya kepada jemaat Galatia yang berpaling dari Injil Kristus, Paulus berkata : “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu. Betapa rinduku untuk berada di antara kamu pada saat ini dan dapat berbicara dengan suara yang lain, karena aku telah habis akal menghadapi kamu” (Galatia 4 :19-20). Perkataan ini menunjukkan bahwa Paulus sangat mengasihi orang-orang yang dia layani dan berjuang untuk mereka. Dalam keadaannya yang terpenjara, dia tidak berhenti berdoa dan memikirkan pertumbuhan iman jemaat, serta menasihati mereka.

  1. Menjadi Teladan

Paulus menunjukkan keteladanan dalam hal pengajaran, cara hidup, pendirian, iman, kesabaran, kasih dan ketekunan. Pengajaran dan nasihat yang diberikan Paulus kepada jemaat bukan sekedar kata-kata, tetapi sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Dalam Filipi 3 : 12, Paulus berkata, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya…”.

  1. Rekan Kerja yang Sehati

Beberapa nama disebutkan oleh Paulus sebagai teman sekerja di dalam Kristus, yang berjuang dalam pelayanan kepada jemaat dan juga memperhatikan keadaannya di penjara. Paulus tidak bekerja sendiri. Ada rekan-rekan sekerja yang memiliki visi yang sama, kasih yang sama kepada jemaat, sama-sama rela bersusah payah untuk pertumbuhan jemaat, tidak mencari kepentingan sendiri dan bahkan ada yang terpenjara bersama Paulus.

  1. Ucapan Syukur

Paulus senantiasa mengucap syukur akan pertumbuhan iman dan kasih yang ditunjukkan oleh jemaat dan murid-muridnya. Ucapan syukur ini menunjukkan bahwa Paulus bergantung sepenuhnya pada kuasa Tuhan. Dia menyadari bahwa hanya Tuhan lah yang bisa memberikan perubahan dan pertumbuhan. Kesadaran ini membuat Paulus tidak memegahkan diri.

Di dalam komunitas pendidikan kristiani, para pengajar seharusnya adalah sekumpulan orang-orang percaya yang melayani dan berjuang untuk pertumbuhan murid-muridnya, bukan hanya bertumbuh dalam hal pengetahuan tetapi juga iman dan karakter. Panggilan yang jelas sebagai seorang guru akan memperkuat komitmen pelayanan ini; menjadi guru tidak sekedar sebuah pekerjaan. Bagi guru yang belum menemukan panggilannya, belum terlambat untuk menggumulkan dan memikirkan kembali mengapa ada di posisi sekarang sebagai guru. Kesehatian dan kesamaan visi dalam pelayanan perlu terus dibangun oleh para pengajar.

Ladang pelayanan para guru adalah sekolah, anak-anak yang telah dipercayakan Tuhan untuk diajar dan dididik. Paulus telah memberikan contoh dalam hal memberi pengajaran yang benar, kasih, bekerja dalam tim, menjadi teladan, dan perjuangan tiada henti bagi pertumbuhan orang-orang yang dilayani. “DIA lah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasaNya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.” (Kolose 1:28-29).

Selamat menantikan perubahan ….

Yully W. Papilaya, S.Si.

Kepala SD Kristen Makedonia

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top