Progress

Menangkal Hoax Melalui Pendidikan

Penulis : Redaksi | Mon, 11 February 2019 - 15:15 | Dilihat : 74
Tags : Artikel Berita Gadget Hoax Kristen Makedonia Milenial Orang Tua Pendidikan

-Suara Makedonia- “Berita Hoax” menjadi topik yang diperbincangkan orang banyak saat ini. Berita hoax tak bisa luput dari kehidupan masyarakat di zaman milenial ini yang dengan sangat mudah mengakses berita. Setiap golongan usia dapat mengakses berita tersebut bahkan anak-anak di bangku sekolah. Hoax yang kita temukan bisa berupa narasi, gambar maupun video atau rekaman suara. Menurut Kamus Besar Bahasa Indoneisa (KBBI), hoax adalah berita bohong. Berita hoax atau dikenal juga dengan istilah fake news dibuat secara sengaja bahkan ditujukan untuk maksud yang jahat. Berita ini tentunya mengandung informasi yang belum bisa teruji kebenarannya. Celakanya, dengan bantuan media sosial, berita hoax ini dengan sangat mudah tersebar di dunia maya. Bila berita tersebut sudah tersebar sulit untuk dicegah. Bukan hal yang mudah untuk menemukan orang yang bisa dituntut mempertanggungjawabkan kebohongan yang sudah tercipta. Padahal berita bohong ini bisa menimbulkan beberapa dampak negatif. Hal inilah yang menimbulkan kegelisahan dan ketakutan yang terus membayang-bayangi kehidupan sosial masa kini.

Dampak negatif yang ditimbulkan oleh berita hoax salah satunya adalah perpecahan. Kandungan yang ada dalam berita hoax tak jarang berisikan fitnah terhadap oknum tertentu. Bila si pembaca tidak menyaringnya dengan baik maka dengan mudah orang tersebut mempercayai fitnah yang disebarkan. Terpancing emosi karena meyakini berita tersebut membuat pembaca cenderung dengan seenaknya memberikan komentar yang memojokkan si objek yang sedang diberitakan. Keyakinan pada berita yang tidak valid mampu memberikan pengaruh besar kepada pembaca. Merasa apa yang mereka yakini adalah kebenaran sesungguhnya. Tak cukup sampai di situ, mereka akan memaksakan pemahaman yang mereka anut kepada orang lain. Pada akhirnya terjadilah praktek adu domba yang kemudian menjadi akar dari perpecahan yang semakin hari semakin memanas. Semua merasa paling benar dan berjuang untuk menjadi pemenang. Tak heran banyak pertikaian yang terjadi antar rekan sekerja, tetangga, bahkan antar saudara hanya karena menganut paham yang berbeda.

Selain menimbulkan perpecahan, berita hoax juga dapat melahirkan sikap apatis pada masyarakat. Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia selalu dihadapkan dengan begitu banyak informasi yang tidak jelas bahkan simpang siur. Segala sesuatu menjadi sangat bias. Sikap apatispun muncul di tengah-tengah masyarakat. Sikap apatis ini berdampak pada menurunnya niat masyarakat dalam menentukan hak pilihnya dalam pemilihan umum. Apalagi dalam hitungan bulan kedepan rakyat Indonesia akan menyelenggarakan pesta demokrasi, pemilihan umum serentak untuk memilih pemimpin dari pusat sampai ke daerah. Berita Hoax tentunya akan memberi dampak yang kentara pada antusias masyarakat untuk memilih pemimpin beberapa tahun ke depan. Untuk itu setiap pembaca sebaiknya memahami literasi digital yang menuntut setiap pengguna internet mampu menggunakan internet mengelola, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan baru dengan bijak.

Menanggapi hal tersebut, dunia pendidikan memiliki peran penting untuk melindungi anak-anak dari pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh berita hoax. Anak-anak juga perlu dibimbing untuk berpikir lebih kritis dalam meresponi setiap berita yang mereka baca di media sosial. Setiap anak harus mampu mengelola dan memastikan kebenaran informasi yang terkandung dalam berita sebelum mempercayainya. Sayangnya metode belajar yang masih berkutat dengan hafalan dan ujian, tidak membangun kemampuan berpikir kritis pada anak. Bahkan ada guru yang bila memberikan ujian, jawabannya harus sama persis dengan yang ada di buku. Metode tersebut sama sekali tidak merangsang pola pikir kritis pada siswa. Takut salah, sehingga siswa hanya mampu berpikir inside the box saja, tidak berani untuk berpikir outside the box. Guru di-setting menjadi sumber kebenaran satu-satunya, bukan medium untuk membangun cara berpikir kritis.

Pentingnya memperbaiki metode mengajar dan kurikulum perlu dilakukan untuk membentengi anak-anak terhadap pengaruh kecanggihan teknologi. Percuma saja usaha keras pemerintah untuk menbatasi akses internet anak-anak tapi tidak seimbang dengan nalar kritis. Berita hoax akan terus menghantui kehidupan sosial zaman kini yang kian hari kian memanas.

Sebagai orang tua, haruslah dapat menjadi pendamping dan pembimbing yang baik bagi anak-anak dalam mengakses informasi di gadget yang mereka miliki. Orang tua bisa menggunakan waktu santai, atau pada saat makan bersama untuk mengingatkan anak-anak lebih berhati-hati dalam menerima sebuah informasi. Selain itu penting bagi orang tua untuk mengontrol setiap aplikasi atau situs yang mereka akses. Sehingga mereka tidak menyalahgunakan kecanggihan teknologi untuk sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan mungkin bisa merusak masa depan mereka.

Akhirnya pemerintah, sekolah dan keluarga harus bersinergi untuk membimbing generasi muda menjadi penerus bangsa yang cerdas, bertanggungjawab dan memiliki daya saing yang tinggi dengan nalar yang kritis.

Kristin Ariesta, S. Pd.

Guru SMA Kristen Makedonia

Lihat juga

Komentar


Group

Top