Buletin

Hoax Sebagai Sebuah Bentuk Pembodohan

Penulis : Redaksi | Tue, 12 February 2019 - 11:05 | Dilihat : 48
Tags : Artikel Berita Bohong Bulletin Hoax Makedonia Negatif Pembodohan Pendidikan Sekolah

-Suara Makedonia- Maraknya penyebaran hoax atau berita bohong belakangan ini menjadi sorotan paling menarik di permukaan masyarakat. Sebagian besar masyarakat dengan mudahnya menjadi cemas dan dipenuhi kecurigaan akan segala sesuatu. Mereka menjadi sulit untuk membedakan informasi mana yang benar dan mana yang hanya kebohongan atau sekadar isu. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian dari mereka justru tanpa sadar ikut menjadi salah satu penyebar hoax.

Salah satu penyebab dari mulusnya perjalanan hoax ini adalah karena dukungan dari media sosial yang sangat menjamur dalam kehidupan. Media sosial yang harusnya menjadi akses untuk memudahkan seseorang mendapatkan informasi, justru menjadi korban penyalahgunaan oknum tak bertanggung jawab. Entah dengan tujuan apa, baik itu secara sadar maupun tidak sadar, media sosial seperti WA, Facebook, Instagram dipakai untuk menyebarkan informasi yang masih belum jelas asal-usulnya.

Menurut riset yang dilakukan oleh DailySocial.id, hoax sulit terdeteksi oleh masyarakat. Sebanyak 44% dari masyarakat mengaku kebingungan untuk membedakan informasi yang mereka dapatkan benar atau tidak. Apalagi informasi yang mengatasnamakan lembaga-lembaga di Indonesia seperti Dinas Pendidikan, Lembaga Kesehatan, Departemen Agama, dan lainnya.

Berdasarkan pendataan, 72% masyarakat memiliki kecenderungan untuk dengan mudahnya membagikan informasi yang menurut mereka penting. 51,03% masyarakat lebih memilih untuk berdiam diri atau tidak mempercayai begitu saja informasi yang ada. Dan, dari 73% masyarakat yang membaca informasi dengan saksama, hanya 55% saja yang memverifikasi keakuratan informasi tersebut. Berdasarkan data tersebut, jelas bahwa sebagian masyarakat benar-benar tidak memiliki kemampuan mumpuni untuk memilah-milah informasi yang tersebar.

Menurut CNN, gaya hidup serba terhubung atau online menjadi penyebab masyarakat dengan mudahnya menerima hoax. Banyak dari masyarakat enggan peduli dengan data-data pribadi yang menjadi salah satu syarat untuk terhubung dengan dunia maya. Di sisi lain, ada pihak-pihak tertentu yang justru menyalahgunakan data-data itu untuk kepentingan pribadi atau tujuan kelompok tertentu.

Pada akhirnya, media sosial tak lagi berpijak pada fungsi sebenarnya. Media sosial justru menjadi media pembodohan masal oleh oknum tertentu. Karena, dengan meningkatnya korban hoax itu menjadi bukti nyata bahwa masyarakat sangat tidak kompeten memahami media online. Di sisi lain, pembodohan terjadi pada pihak yang melakukan hoax dengan sengaja. Karena, tidak ada orang pintar yang dengan santainya menulis sembarangan di media online. Sama seperti tong kosong, yang mengeluarkan suara paling nyaring saat dipukul tapi ternyata tak ada isi sama sekali. Mereka hanya sekadar mencari perhatian dengan cara yang bisa disebut pembodohan.

Pembodohan semacam ini harus ditindaklanjuti dengan cepat. Pihak Kemenkominfo sudah melakukan upaya tertentu untuk menahan lajunya penyebaran hoax. Salah satu cara yang telah terealisasi adalah adanya UUITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik). Dengan begitu, setidaknya masyarakat sudah memegang ‘rem’ untuk tangan mereka yang dengan gampangnya melanjutkan penyebaran informasi yang masih belum jelas.

Tidak hanya pemerintah, tetapi masyarakat juga diharapkan ikut bekerja sama dalam menghentikan penyebaran hoax. Hal yang dilakukan cukup sederhana, yaitu:

  1. Jangan mudah untuk terprovokasi oleh pemberitaan yang tersebar di media online.
  2. Baca informasi secara saksama, pastikan dengan memverifikasi pada pihak terkait.
  3. Mencari berita melalui situs resmi.
  4. Tidak ikut-ikutan menyebarkan informasi yang didapat.
  5. Tambah wawasan dengan lebih sering melihat konten edukasi daripada sekadar isu/gosip.
  6. Biasakan membuat pernyataan dengan bahasa yang santun di media online.
  7. Biasakan berpikir terlebih dulu sebelum mengritisi sesuatu yang bersifat sensitif (misal: isu agama, suku, politik, dan lainnya).

Memberantas hoax sama dengan memberantas kebodohan di era modern. Mulai dari diri sendiri, mari kita bertindak bijak dalam menggunakan media sosial. Jangan membodohi diri sendiri dan juga orang lain. Karena hoax itu bagian dari kita, tak bisa untuk kita tidak acuhkan. Jangan jadikan diri sendiri sebagai senjata sekaligus korban dalam ‘permainan jari-jemari media online’ ini. Mari, gunakan media sosial dengan cerdas.

Hariya Oktaviany, S. Pd.

Guru SMP Kristen Makedonia

Lihat juga

Komentar


Group

Top