SAINS DAN TEOLOGI

Mon, 28 October 2013 - 15:10 | Dilihat : 972
gbr.jpg
SAINS DAN TEOLOGI Perjalanan panjang gereja diwarnai dengan berbagai benturan, baik dengan politik (Kerajaan ato Negara), maupun dengan sains. Ledakan permusuhan dengan sain terutama pada keputusan gereja yang menuduh sesat dan menghukum Galileo (1564-1642). Pria berkebangsaan Italia, bapak sains, yang ahli astronomi, matematika, dan fisika itu, mati dimasa penghukumannya. Dia juga seorang filsuf unggul. Pada tahun 1992, Paus Yohanes Paulus II, menyebutkan bahwa keputusan gereja saat itu sebagai salah. Galileo, adalah seorang pendukung teori Nicolaus Copernicus tentang pergerakan bumi. Bumi mengitari matahari dan bukan sebaliknya, sebagaimana pemahaman pada waktu itu yang dipengaruhi oleh teori Aristoteles, seorang filsuf dan sains dari Yunani (384 SM322 SM). Bumi berputar, adalah kata warisan pengetahuan Galileo. Galileo dianggap telah menjadi korban gereja yang merupakan reseprentasi keimanan. Disinilah kenyataan pahit itu dimulai, dan terus berlangsung sampai sekarang dalam suasana saling mencurigai dan usaha menjatuhkan. Miris, karena Galileo sendiri sejatinya seorang Kristen. Peristiwa ini telah menjadi sejarah kelam gereja dalam berhubungan dengan sains. Dan, lebih menyedihkan lagi, dimasa kini, kebanyakan rohaniawan gagap sains, dan sangat mudah menjatuhkan vonis sains melawan Tuhan. Padahal anak-anak mereka dikirim kesekolah untuk belajar sains. Apakah Alkitab menafikan sains? Jawabnya amat sangat jelas; Tidak!. Amsal 1:7, dengan sangat terang benderang mengatakan; Takut akan Tuhan adalah adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. Pengetahuan disini jelas mengadung dua makna, yaitu Allah dan alam. Pencipta dan ciptaan Nya. Ketika Allah menciptakan manusia, jelas Dia bersabda di Kejadian 1:28; Penuhilah bumi (sosial), taklukkanlah (kelola), berkuasalah (menjaga). Artinya, sangat jelas, manusia berkembang biak memenuhi bumi, tapi bukan melebihi kapasitas bumi, mengelola dan menjaga semuanya. Manusia tinggal dibumi, dimana matahari bersinar diwaktu siang, dan bukan, bintang diwaktu malam. Semua harus menjadi objek pengetahuan manusia. Artinya, jelas sekali, manusia diciptakan sebagai seorang saintis. Ketika ada pengetahuan yang menyeleweng dan melawan ketetapan Allah, itu bukan karena sains nya, melainkan kegagalan gereja menjaga dan mengajarkan kebenaran pengetahuan, yang memang menjadi tugasnya. Takut akan Tuhan, menuntut manusia untuk hidup memuliakan Tuhannya, dan itu hanya dimungkinkan dengan pengetahuan akan kebenaran Tuhan dan perintah Nya atas bumi, yang diemban dan harus diwujudkan manusia. Umat yang takut akan Tuhan, sudah semestinya memiliki kerinduan besar yang terus menerus menggarami dan menerangi dunia. Dan, dalam konteks ini tentu saja dengan pengetahuan yang memadai akan dunia keilmuan, yang sekaligus bisa jadi alat bantu menceritakan kebesaran Tuhan. Kesadaran seperti ini perlu ditumbuhkembangkan secara aktif oleh gereja, dan para rohaniawan harus mampu menjadi modelnya. Gereja tak boleh hanya berteologi dan terjebak didalam gedung, tetapi keluar memberitakan injil dengan bahasa yang dapat dipahami para saintis. Ini juga harus menjadi tantangan bagi para guru Kristen untuk terus membenahi dan melengkapi diri dalam berilmu. Guru harus piawai dalam mengajar dan memakai sains sebagai alat efektif menceritakan kebesaran Tuhan. Cobalah pikirkan, betapa hebatnya keberadaan alam semesta, yang tak bertepi, dengan planet dan benda penerang bumi, tidakkan itu menggambarkan kebesaran Sang Penciptanya. Sebua tantang yang harus diselesaikan. Akhirnya, sains dan teologi bukan lagi sebuah duel, melainkan duet yang harmoni. Selamat berdansa diantara keduanya, dan menikmati kelincahan berpikirnya.

Komentar

Top